Politik dalam Sepakbola. Adakah?

Pendapat polos yang kerap beredar di tengah masyarakat ialah bahwa sepakbola itu bebas nilai dari politik atau campur tangan pihak-pihak tertentu demi kekuasaan. Tapi di Indonesia, hubungan erat antara politik dan sepakbola nampak begitu banal. Terjadinya kasus PSSI yang tak pernah rampung hingga sekarang merupakan salah satu pembuktian bagaimana olahraga bisa menjadi alat politik yang memuakkan.

Politik-dalam-Sepakbola.-Adakah

Namun tidak selamanya hubungan antara politik dan sepakbola itu bersifat negatif. Meski dalam kenyataannya, ketika sudah masuk urusan kepentingan politik dalam sepakbola, kemurnian dari esensi sepakbola itu sudah tak ada. Tapi sebagai alat politik, sepakbola adalah senjata yang ampuh. Dan negara kita pun sudah pernah membuktikannya meski pada perkembangannya sampai sekarang terlalu miris untuk diingat.

Sepakbola dan Kebijakan Politik Luar Negeri

Di sinilah titik mulanya dari sejarah di negeri kita mengenai hubungan antara sepakbola dan politik. Di masa kepemimpinan Sukarno, reputasi tim nasional kita sudah cukup lumayan di dunia internasional. Buktinya, di tahun 1950, tim nasional melaju ke babak kualifikasi. Namun di tengah perjalanan itu, justru Presiden Sukarno melarang tim nasional melanjutkan babak tersebut. Penyebabnya? Karena saat itu tim nasional Indonesia  dijadwalkan bertemu dengan tim nasional Israel. Sementara dalam garis kebijakan politik luar negeri Indonesia, Israel merupakan negara kolonial yang menjajah kemerdekaan Palestina. Praktis terlihat bahwa ada campur tangan yang sangat kuat dari pemerintah pada dunia sepakbola.

Yang lebih fenomenal lagi ketika Jerman masih di bawah kepemimpinan Hitler. Sang Fuhrer benar-benar memanfaatkan Federasi Sepakbola Jerman sebagai alat politiknya. Terbukti juga bahwa praktik semacam itu sangat efektif untuk menancapkan pengaruh kekuasaan politik. Di era yang sama, Italia di bawah Musollini pun mengalami nasib serupa. Bahkan tim nasionalnya sempat menerima ancaman hukuman mati dari sang diktator kalau sampai kalah bermain dengan tim lawan. Otomatis tim lawan yang dijadwalkan menghadapi Italia pun mengalah demi keselamatan seluruh tim resmi yang mengenaskan itu.

Keterlibatan para pemangku jabatan politik dalam negeri di sebuah klub pun bukan hal aneh. Misalnya di Indonesia dengan sejumlah klub yang dulu pernah dikepalai oleh para petinggi politik. Di luar negeri pun demikian halnya. Contohnya adalah AC Milan yang dahulu identik dengan kekuasaan sang Perdana Menteri, Berlusconi. Sampai-sampai pengaruhnya yang begitu kuat, nyaris tak tersentuh oleh publik pengaruh dari kekuasaan politik tersebut. Memang terlihat tak etis, tetapi itulah kenyataan dalam dunia sepakbola yang sangat dipengaruhi oleh politik dalam negeri.

Lagipula sangat mustahil memikirkan sepakbola dalam negeri tanpa memperhitungkan faktor politik dalam negerinya. Tentu ada kepentingan yang diarahkan oleh setiap pihak yang punya kuasa. Sementara dunia sepakbola dalam negeri butuh dukungan nyata untuk bisa meningkatkan kualitas dan maju ke pentas internasional. Di situlah terbentuk hubungan timbal balik antara sepakbola dan politik praktis.

Sepakbola-dan-Politik-Garis-Keras

Sepakbola dan Politik Garis Keras

Campur tangan politik dan pengaruhnya di dalam sepakbola sangat terasa di sebagian negara. Misalnya saja di negara-negara bekas pecahan Yugoslavia. Sebuah catatan kelam yang sampai hari ini terus diingat oleh para sejarawan dan penggemar sepakbola dunia. Bagaimana seorang teroris seperti Arkan berhasil mengorganisir para suporter klub dan mengintimidasi para pemainnya untuk bermain dan mencapai prestasi demi kepentingan politik.

Kasus-kasus serupa terjadi juga di sejumlah negara di Britania Raya. Mulai dari Skotlandia hingga Irlandia, cerita tentang kekerasan dan konflik antar suporter sebenarnya adalah bagian dari agenda politik para penguasa demi kepentingan masing-masing. Di situlah hubungan politik dan sepakbola yang menurut judi bola online begitu kentara dan nampak mengerikan.

Yang lebih mengerikan lagi ketika sepakbola justru menjadi pemicu konflik politik. Terdengar aneh tapi pernah terjadi di dalam sejarah dunia. Tahun 1969, terjadi konflik antara El Salvador dan Honduras. Dua negara ini terlibat konflik bersenjata hanya gara-gara sepakbola. Perang itu berlangsung selama empat hari dengan agresi Salvador ke wilayah Honduras. Kedua negara itu sebelumnya terlibat dalam babak kualifikasi untuk Piala Dunia 1970. Ujung-ujungnya, mereka saling memutuskan hubungan diplomatik. Contoh yang kalau diamati nampak komikal dan menggelikan, tetapi efeknya begitu mengerikan karena sampai menimbulkan peperangan.

Namun sepakbola pun bisa menjadi kekuatan politik yang berpengaruh positif bagi masyarakatnya. Hal ini pernah terjadi di Ukraina beberapa tahun lalu. Piala Eropa tahun 2012 baru saja berlalu. Namun iklim politik di sana semakin memanas. Kondisi itu memicu persatuan dari para suporter klub lokal yang sebelumnya sangat apolitis.

Ratusan ribu massa dikerahkan untuk menggulingkan presiden waktu itu. Banyak korban berjatuhan di dalam situasi yang memanas itu. Padahal para suporter dari berbagai klub yang berbeda itu sebelumnya saling bermusuhan. Namun karena kondisi politik dalam negeri yang menekan mereka, akhirnya mereka bisa bersatu dan saling bekerjasama menggulingkan rezim yang tiran. Bukti bahwa sebuah kekuasaan yang korup bisa dihancurkan dari sebuah persatuan yang diikat oleh sepakbola dengan semua penggemarnya.

Efek Drogba

Kisah yang hampir mirip dengan yang terjadi di Ukraina tapi lebih dramatis terjadi di Pantai Gading. Sosok Drogba menjadi ikon penting dari situasi tersebut. Drogba adalah pahlawan dari negaranya, Pantai Gading. Sebelum kemunculan Drogba, hampir tak ada orang yang mengenal Pantai Gading sebagai sebuah negara. Padahal, tahun 1999, Pantai Gading adalah negara yang memiliki sejarah konflik perang saudara. Pemerintah saat itu disibukkan oleh para pemberontak yang menguasai wilayah selatan. Sementara pemerintah berusaha mengendalikan situasi dari wilayah selatan. Sekitar 3000 jiwa menjadi korban dari konflik bersenjata itu.

Sampai akhirnya di tahun 2005, Pantai Gading lolos dalam babak putaran final Piala Dunia tahun 2006. Mereka berhasil mengalahkan Sudan dan seluruh warga negaranya membanjiri jalanan-jalanan Pantai Gading. Tepat saat itulah Drogba menyampaikan pidato yang sangat menyentuh. Mengajak segenap saudaranya di tanah air untuk saling berdamai dan melupakan konflik berdarah di negaranya. Efeknya sungguh luar biasa. Antara pemerintah dan pasukan pemberontak, disepakati perdamaian hitam di atas putih. Stabilitas politik pun tercapai berkat pidato menyentuh dari Drogba itu. Sementara Pantai Gading terus dikenal oleh publik sepakbola dengan para pemainnya yang berbakat.

Bicara soal politik dan sepakbola memang setali tiga uang. Keduanya sama-sama mengandalkan strategi dan taktik yang sebetulnya nyaris mirip satu sama lain. Sang pelatih atau manajer berperan sebagai otak utama untuk menundukkan lawan di atas lapangan. Dalam konteks jaman modern, sepakbola sudah menjadi alat politik yang tepat untuk kepentingan tertentu. Yang terus dicanangkan oleh FIFA sekarang ini adalah sepakbola sebagai misi perdamaian. Salah satunya adalah melawan rasisme yang masih kerap dijumpai di sejumlah negara dan bahkan di atas lapangan. Kampanye tentang anti rasisme ini terus digalakkan demi dunia yang lebih baik minimal dari para penggemar sepakbola.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *