10 Pemain Sepakbola Yang Banyak Orang Tidak Tahu

Jagad sepakbola dunia kerap diwarnai oleh nama-nama tenar yang hampir setiap hari disebutkan dalam pemberitaan media. Dan bukan hanya dari pemberitaan media, karena nama-nama terkenal itu pun merasuk langsung dalam budaya populer mulai dari fashion dengan beredarnya beragam jersey dengan nama di punggung, sampai pada game-game yang bisa dimainkan banyak orang.

Namun bagaimana dengan nama-nama para pemain bola lainnya? Kita tentu tak menutup mata pada para pemain lain yang sebetulnya masih berkarir di sepakbola tetapi banyak orang yang tak tahu. Cukup ironis padahal mereka sempat nyaris merebut perhatian publik sampai akhirnya nasib berkata lain.

Banyak pemain berbakat di dunia ini yang sampai sekarang nama-namanya ternyata kian terlupakan oleh banyak orang, dan bahkan malah tak diketahui. Siapa sajakah mereka? Di bahwa ini ada 10 nama yang perlu diketahui.

10-Pemain-Sepakbola-Yang-Banyak-Orang-Tidak-Tahu

Marko Marin

Musim 2009/2012, ia tampil mencuri perhatian semasa bermain untuk Werder Bremen. Waktu itu ia bahkan menyandang predikat sebagai Lionel Messi-nya Jerman. Tapi apa yang terjadi? Ia memutuskan pindah ke Chelsea. Di klub barunya itu, nasibnya justru tak jelas. Cuma mencicipi musim pertama dan setelah itu dipinjamkan ke beberapa klub mulai dari Sevilla, Fiorentina, Anderlecht, dan Trabzonspor. Terakhir ia akhirnya berlabuh untuk Olympiakos.

Diego Forlan

Namanya sempat digadang-gadang saat memulai karir di MU periode 2002/2003. Tetapi hasilnya kurang dari yang diharapkan hingga ia akhirnya pindah ke Villareal berlanjut ke Atletico Madrid. Masih belum bersinar, ia diputuskan pindah ke Inter Milan. Setelah itu malah makin tidak jelas lagi. Di klub Serie A Italia itu, ia cuma bisa bertahan selama dua tahun dan berakhir di Cerezo Osaka.

Ludovic Gioly

Di Barcelona, ia merupakan salah satu pemain andalan di samping Eto’o dan Ronaldinho. Ia dikenali dari postur tubuhnya yang tidak begitu besar namun punya kecepatan dan akselerasi tinggi. Musim 2005/2006 adalah masa kejayaannya ketika Barcelona berhasil merebut gelar juara liga dan Champions.

Setelah itu, ia pindah ke beberapa klub seperti AS Roma, PSG, AS Monaco, dan Lorient. Pamornya semakin turun dan pensiun pada tahun 2013. Meski sudah pensiun, ia ternyata pernah memutuskan kembali bermain untuk klub lamanya, Monts d’Or Azerguers Foot.

Ryan Babel

Tahun 2007 adalah masa kejayaan dari Ryan Babel. Tetapi di masa itulah kehadiran media sosial begitu berpengaruh pada perilaku sebagian pesohor termasuk dirinya. Ia seringkali iseng mengedit foto dan memostingnya di akun pribadinya. Perilaku semacam itu sempat menuai kecaman dan sindiran dari publik. Setelah tidak bermain di Liverpool, karir Babel semakin suram. Ia seolah-olah tak terlihat lagi dari radar sepakbola dunia. Padahal ia masih sempat bermain untuk beberapa klub termasuk rumah lamanya yaitu Ajax.

Diego Ribas

Menjadi salah satu pemain playmaker penting di FC Porto. Jebolan dari Santos ini mengukir prestasinya di klub tersebut. Meski sempat gagal di Juventus dan VfL Wolfsburg, ia tetap tak menyerah dan malah menunjukkan prestasinya bersama Atletico Madrid. Perannya pun dibutuhkan di tim nasional Brasil. Namun barangkali hanya persoalan nasib saja kalau sudah soal ketenaran. Ia mengakhiri karirnya dengan pulang ke Brasil dan bermain untuk Flamengo.

Pemain-Yang-Terlupakan-Oleh-Para-Fans

Eric Djemba-Djemba

Barangkali namanya tidak terlupakan begitu saja. Apalagi karena bermain untuk liga di Indonesia. Namun kalau ada sampai pemain kelas dunia yang akhirnya bermain di sini, tentu ada pertanyaan besar di situ. Padahal ia dulu merupakan pemain bintang di MU. Sejak tahun 2005, ia sering gonta-ganti klub, mulai dari Qatar, Denmark, Israel, India, dan terakhir di sini. Nasibnya yang tragis barangkali menyebabkan namanya dilupakan sebagian besar orang di Eropa atau negara lain.

Florent Malouda

Pemain yang pernah berkarir di Chelsea ini mengakhiri masa kejayaannya dengan berkarir di Liga Super India. Tepatnya di sebuah klub bernama Delhi Dynamos. Pernah juga membela tim nasional Perancis dan merebut perhatian publik saat momen Piala Dunia dan Piala Eropa. Tetapi bagi sebagian publik, setelah itu ia dianggap pensiun.

Semasa di Chelsea, Malouda menikmati kesuksesan dengan berbagai gelar yang diperoleh. Pencapaiannya bersama klub London itu tercatat dalam ajang Liga Utama Inggris, Piala FA, dan Champions.

Joe Cole

Banyak orang yang masih ingat dengan Joe Cole, tapi banyak lagi yang akhirnya melupakannya. Atau bahkan generasi sekarang tak banyak yang tahu dengan namanya. Ia dulunya merupakan salah satu pemain terbaik di Liverpool. Seperti itulah bentuk pujian yang pernah disampaikan oleh mantan kapten The Reds, Steven Gerrard. Tapi baru mengawali debutnya, ia justru bikin masalah dan mendapat ganjaran kartu merah. Sebelumnya, ia bermain untuk Chelsea dengan catatan prestasi luar biasa dari perolehan gelar liga dan FA.

Sesudah itu, tak banyak yang tahu bagaimana kelanjutan nasibnya. Tetapi kabar yang muncul memberitakan bahwa ia berkarir untuk sebuah klub kecil di Amerika Serikat. Itu pun sebuah klub untuk Divisi Dua. Sebuah akhir yang mungkin tak begitu menggembirakan bagi para penggemarnya di masa lalu. Tapi bisa jadi ia malah menikmati masa-masa akhirnya di sana karena punya modal nama besar semasa di Liga Utama Inggris.

Samuel Eto’o

Ia adalah pemain yang sangat terkenal. Ya. Tapi kalau kita membicarakannya mulai dari titik sekarang, tidak banyak orang yang tahu bagaimana reputasi dan pengalamannya di masa lalu. Mengawali karirnya di Real Madrid, dan hijrah ke rival abadinya Barcelona dan menuai prestasi besar di sana. Pindah ke Inter Milan, karirnya masih sangat cemerlang. Tapi apa yang terjadi? Ia malah memutuskan pindah ke sebuah klub bernama Anzhi Makhachkala. Tahu bahwa di situ bukanlah tempatnya, ia kembali ke Eropa untuk Chelsea dan Everton. Setahun kemudian pindah lagi ke Sampdoria. Tapi roda nasib sudah berputar jauh, dan ia akhirnya bermain untuk sebuah klub Turki. Nama Eto’o akhirnya memudar dan tak banyak lagi orang yang membicarakan tentang dirinya.

Elano

Elano pun menjadi contoh lain bahwa nasib bisa berubah begitu cepat jika tak memanfaatkan momen dengan tepat. Sewaktu bergabung dengan Manchester City, Elano menanjak karirnya. Tetapi kebijakan klub waktu itu memaksanya untuk pindah ke Turki. Dilanjutkan dengan kepindahannya ke Brasil, dan terakhir di Asia yaitu sebuah klub India. Waktu itu banyak yang memperkirakan bahwa karirnya sudah habis. Kurang tepat juga karena masih terselamatkan berkat tawaran dari klub awalnya, Santos. Meski demikian, nama Elano pun kian terlupakan karena sudah tak menempati panggung utama dalam jagad sepakbola dunia.

Banyak orang yang tak tahu dan begitu juga yang sebenarnya perlahan melupakan mereka. Itulah dunia sepakbola dengan bertebarannya para pemain bintang yang roda nasibnya berputar sendiri tanpa pernah bisa ditebak.

Politik dalam Sepakbola. Adakah?

Pendapat polos yang kerap beredar di tengah masyarakat ialah bahwa sepakbola itu bebas nilai dari politik atau campur tangan pihak-pihak tertentu demi kekuasaan. Tapi di Indonesia, hubungan erat antara politik dan sepakbola nampak begitu banal. Terjadinya kasus PSSI yang tak pernah rampung hingga sekarang merupakan salah satu pembuktian bagaimana olahraga bisa menjadi alat politik yang memuakkan.

Politik-dalam-Sepakbola.-Adakah

Namun tidak selamanya hubungan antara politik dan sepakbola itu bersifat negatif. Meski dalam kenyataannya, ketika sudah masuk urusan kepentingan politik dalam sepakbola, kemurnian dari esensi sepakbola itu sudah tak ada. Tapi sebagai alat politik, sepakbola adalah senjata yang ampuh. Dan negara kita pun sudah pernah membuktikannya meski pada perkembangannya sampai sekarang terlalu miris untuk diingat.

Sepakbola dan Kebijakan Politik Luar Negeri

Di sinilah titik mulanya dari sejarah di negeri kita mengenai hubungan antara sepakbola dan politik. Di masa kepemimpinan Sukarno, reputasi tim nasional kita sudah cukup lumayan di dunia internasional. Buktinya, di tahun 1950, tim nasional melaju ke babak kualifikasi. Namun di tengah perjalanan itu, justru Presiden Sukarno melarang tim nasional melanjutkan babak tersebut. Penyebabnya? Karena saat itu tim nasional Indonesia  dijadwalkan bertemu dengan tim nasional Israel. Sementara dalam garis kebijakan politik luar negeri Indonesia, Israel merupakan negara kolonial yang menjajah kemerdekaan Palestina. Praktis terlihat bahwa ada campur tangan yang sangat kuat dari pemerintah pada dunia sepakbola.

Yang lebih fenomenal lagi ketika Jerman masih di bawah kepemimpinan Hitler. Sang Fuhrer benar-benar memanfaatkan Federasi Sepakbola Jerman sebagai alat politiknya. Terbukti juga bahwa praktik semacam itu sangat efektif untuk menancapkan pengaruh kekuasaan politik. Di era yang sama, Italia di bawah Musollini pun mengalami nasib serupa. Bahkan tim nasionalnya sempat menerima ancaman hukuman mati dari sang diktator kalau sampai kalah bermain dengan tim lawan. Otomatis tim lawan yang dijadwalkan menghadapi Italia pun mengalah demi keselamatan seluruh tim resmi yang mengenaskan itu.

Keterlibatan para pemangku jabatan politik dalam negeri di sebuah klub pun bukan hal aneh. Misalnya di Indonesia dengan sejumlah klub yang dulu pernah dikepalai oleh para petinggi politik. Di luar negeri pun demikian halnya. Contohnya adalah AC Milan yang dahulu identik dengan kekuasaan sang Perdana Menteri, Berlusconi. Sampai-sampai pengaruhnya yang begitu kuat, nyaris tak tersentuh oleh publik pengaruh dari kekuasaan politik tersebut. Memang terlihat tak etis, tetapi itulah kenyataan dalam dunia sepakbola yang sangat dipengaruhi oleh politik dalam negeri.

Lagipula sangat mustahil memikirkan sepakbola dalam negeri tanpa memperhitungkan faktor politik dalam negerinya. Tentu ada kepentingan yang diarahkan oleh setiap pihak yang punya kuasa. Sementara dunia sepakbola dalam negeri butuh dukungan nyata untuk bisa meningkatkan kualitas dan maju ke pentas internasional. Di situlah terbentuk hubungan timbal balik antara sepakbola dan politik praktis.

Sepakbola-dan-Politik-Garis-Keras

Sepakbola dan Politik Garis Keras

Campur tangan politik dan pengaruhnya di dalam sepakbola sangat terasa di sebagian negara. Misalnya saja di negara-negara bekas pecahan Yugoslavia. Sebuah catatan kelam yang sampai hari ini terus diingat oleh para sejarawan dan penggemar sepakbola dunia. Bagaimana seorang teroris seperti Arkan berhasil mengorganisir para suporter klub dan mengintimidasi para pemainnya untuk bermain dan mencapai prestasi demi kepentingan politik.

Kasus-kasus serupa terjadi juga di sejumlah negara di Britania Raya. Mulai dari Skotlandia hingga Irlandia, cerita tentang kekerasan dan konflik antar suporter sebenarnya adalah bagian dari agenda politik para penguasa demi kepentingan masing-masing. Di situlah hubungan politik dan sepakbola yang menurut judi bola online begitu kentara dan nampak mengerikan.

Yang lebih mengerikan lagi ketika sepakbola justru menjadi pemicu konflik politik. Terdengar aneh tapi pernah terjadi di dalam sejarah dunia. Tahun 1969, terjadi konflik antara El Salvador dan Honduras. Dua negara ini terlibat konflik bersenjata hanya gara-gara sepakbola. Perang itu berlangsung selama empat hari dengan agresi Salvador ke wilayah Honduras. Kedua negara itu sebelumnya terlibat dalam babak kualifikasi untuk Piala Dunia 1970. Ujung-ujungnya, mereka saling memutuskan hubungan diplomatik. Contoh yang kalau diamati nampak komikal dan menggelikan, tetapi efeknya begitu mengerikan karena sampai menimbulkan peperangan.

Namun sepakbola pun bisa menjadi kekuatan politik yang berpengaruh positif bagi masyarakatnya. Hal ini pernah terjadi di Ukraina beberapa tahun lalu. Piala Eropa tahun 2012 baru saja berlalu. Namun iklim politik di sana semakin memanas. Kondisi itu memicu persatuan dari para suporter klub lokal yang sebelumnya sangat apolitis.

Ratusan ribu massa dikerahkan untuk menggulingkan presiden waktu itu. Banyak korban berjatuhan di dalam situasi yang memanas itu. Padahal para suporter dari berbagai klub yang berbeda itu sebelumnya saling bermusuhan. Namun karena kondisi politik dalam negeri yang menekan mereka, akhirnya mereka bisa bersatu dan saling bekerjasama menggulingkan rezim yang tiran. Bukti bahwa sebuah kekuasaan yang korup bisa dihancurkan dari sebuah persatuan yang diikat oleh sepakbola dengan semua penggemarnya.

Efek Drogba

Kisah yang hampir mirip dengan yang terjadi di Ukraina tapi lebih dramatis terjadi di Pantai Gading. Sosok Drogba menjadi ikon penting dari situasi tersebut. Drogba adalah pahlawan dari negaranya, Pantai Gading. Sebelum kemunculan Drogba, hampir tak ada orang yang mengenal Pantai Gading sebagai sebuah negara. Padahal, tahun 1999, Pantai Gading adalah negara yang memiliki sejarah konflik perang saudara. Pemerintah saat itu disibukkan oleh para pemberontak yang menguasai wilayah selatan. Sementara pemerintah berusaha mengendalikan situasi dari wilayah selatan. Sekitar 3000 jiwa menjadi korban dari konflik bersenjata itu.

Sampai akhirnya di tahun 2005, Pantai Gading lolos dalam babak putaran final Piala Dunia tahun 2006. Mereka berhasil mengalahkan Sudan dan seluruh warga negaranya membanjiri jalanan-jalanan Pantai Gading. Tepat saat itulah Drogba menyampaikan pidato yang sangat menyentuh. Mengajak segenap saudaranya di tanah air untuk saling berdamai dan melupakan konflik berdarah di negaranya. Efeknya sungguh luar biasa. Antara pemerintah dan pasukan pemberontak, disepakati perdamaian hitam di atas putih. Stabilitas politik pun tercapai berkat pidato menyentuh dari Drogba itu. Sementara Pantai Gading terus dikenal oleh publik sepakbola dengan para pemainnya yang berbakat.

Bicara soal politik dan sepakbola memang setali tiga uang. Keduanya sama-sama mengandalkan strategi dan taktik yang sebetulnya nyaris mirip satu sama lain. Sang pelatih atau manajer berperan sebagai otak utama untuk menundukkan lawan di atas lapangan. Dalam konteks jaman modern, sepakbola sudah menjadi alat politik yang tepat untuk kepentingan tertentu. Yang terus dicanangkan oleh FIFA sekarang ini adalah sepakbola sebagai misi perdamaian. Salah satunya adalah melawan rasisme yang masih kerap dijumpai di sejumlah negara dan bahkan di atas lapangan. Kampanye tentang anti rasisme ini terus digalakkan demi dunia yang lebih baik minimal dari para penggemar sepakbola.

10 Tempat Pelatihan Sepakbola Ini Berhasil Mengasah Pemain Menjadi Bintang

Para pemain bintang memiliki bakat dan ketrampilan sejak dari masa kecilnya. Yang kemudian berkembang karena terus diasah melalui pembinaan yang ketat dari klub atau akademi. Akademi merupakan tempat khusus untuk pelatihan para pemain sepakbola berbakat dari usia dini yang dirancang sebagai pemasok tim masa depan sebuah klub. Namun tak jarang para lulusan akademi itu juga menjadi lahan bisnis potensial untuk bursa transfer di liga-liga besar.

10-Tempat-Pelatihan-Sepakbola-Ini-Berhasil-Mengasah-Pemain-Menjadi-Bintang

Lazimnya, sebuah klub besar pasti memiliki akademi khusus yang membina para pemain mudanya untuk diprospek di masa mendatang. Perkembangannya agak berbeda meski tetap mengelola dan memupuk para pemain muda di akademi tersebut. Lebih banyak klub yang mengincar para pemain muda berbakat dan tinggal dipoles sedikit untuk langsung main di tim utama.

Bagaimanapun juga, kehadiran akademi di sebuah klub sangat penting. Sebagai tempat pelatihan yang berhasil mengasah sebagian pemainnya menjadi bintang di masa depan. Ketersediaan fasilitas yang lengkap, para pelatih, dan atmosfir yang tercipta di dalam akademi itu merupakan nilai-nilai yang tak tergantikan dibandingkan dengan para pemain muda berbakat yang bukan jebolan dari tempat formal itu. Nah, setidaknya ada 10 tempat pelatihan sepakbola yang sampai hari ini tercatat berhasil mengasah para didikannya menjadi pemain bintang. Inilah sepuluh tempat tersebut:

La Masia

Selama sepuluh tahun lebih, akademi ini termasyhur berkat didikannya yang ekstra keras dan telah menghasilkan banyak pemain terbaiknya. Tak heran kalau akademi yang dimiliki oleh Barcelona ini juga mempunyai julukan “The Farmhouse”, alias lahan pencipta para pemain berkualitas.

Sosok Messi dianggap perwujudan karakteristik pendidikan sepakbola di La Masia. Tak aneh kalau ia kerap disebut oleh publik sebagai perwakilan La Masia dari teknik dan filosifis. Di samping Messi, masih banyak pemain lain yang merupakan hasil didikan asli dari La Masia seperti Gerard Pique, Cesc Fabregas, Iniesta, Xavi, Puyol, dan sebagainya.

Manchester United Academy

Sudah menjadi semacam tradisi dari akademi kepunyaan MU ini untuk melahirkan generasi-generasi masa depan berbakat. Suksesnya pencapaian akademi ini tak lepas dari urun tangan Alex Ferguson. Ia memang dikenal sebagai sosok pelatih yang sangat percaya pada kemampuan tim mudanya. Hasilnya adalah gebrakan luar biasa di masa-masa kejayaan MU selama ditangani oleh Fergie.

Satu lulusan angkatan yang terkenal dan fenomenal adalah Class of ’92. Racikan Fergie adalah perpaduan antara para jebolan akademi angkatan itu dengan sejumlah pemain baru yang dibelinya dari klub-klub lain. Prestasi puncaknya terjadi pada tahun 2009 saat MU berhasil mengoleksi tiga gelar juara bergengsi di dunia.

Sporting Academy Alochete

Akhir tahun 80-an, akademi ini mencetak seorang Luis Figo. Dan nama lain yang dicetak oleh akademi di generasi berikutnya adalah Christiano Ronaldo. Akademi in memang menjadi semacam pusat pelatihan para pemain berbakat di Portugal.

Pelatihan-Sepak-Bola-Dunia

Clairefontaine

Akademi ini resmi di bawah naungan Federasi Sepakbola Perancis. Sampai saat ini pun menjadi tumpuan untuk pencarian dan pengembangan bibit-bibit muda berbakat. Nama-nama yang telah dilahirkan oleh akademi ini antara lain adalah Nicholas Anelka, William Gallas, Louis Saha, dan sebagainya.

Santos

Santos adalah sebuah akademi yang seolah-olah tak pernah kesulitan melacak bibit-bibit berbakat di Amerika Latin. Sudah banyak pemain bintang yang dibesarkan dalam didikan Akademi Santos. Sebut saja beberapa nama seperti Neymar, Ganso, Giovani, Leo, Robinho, Juary, Pita, hingga Pele.

Mungkin saja tak banyak yang mengenal atau mendengar nama Santos. Karena selain sebagai klub, akademinya seringkali bersifat sebagai penyetor para pemain berbakat ke Eropa. Banyak didikannya yang meninggalkan Santos demi masa depan yang lebih baik. Namun itu adalah kondisi yang selalu wajar dan bisa dimaklumi. Sampai hari ini pun demikian, melalui pencarian bakat tanpa henti dari akademi ini di zona Amerika Latin. (Baca: Pengen tahu berapa penghasilan pemain sepakbola yang biasa dengan mereka yang mega bintang? Click here)

Castilla

Akademi milik Real Madrid ini juga salah satu yang terbaik di dunia. Nyaris semua lulusannya punya kualitas di atas rata-rata. Sayangnya, banyak yang akhirnya tak terpakai karena kebiasaan Real Madrid berbelanja para pemain bintang dari luar klub. Mungkin saja ada perhitungan bisnis di sini, mengingat reputasi klub yang dikenal sebagai tim bertaburan bintang. Sehingga lulusan akademinya justru diekspor ke klub-klub lain meski ada juga sebagian yang mencicipi peran di tim utama.

Sejumlah alumni dari Castilla yang dikenal punya reputasi sebagai pemain bintang adalah Soldado, Raul, Juan Mata, Javi Garcia, Guti, Canizares, Casillas, Benitez, Santiago, Arbeloa, dan masih banyak deretan nama yang terkenal di klub-klub lain.

The Academy of Football

Akademi ini milik West Ham. Ironisnya, banyak yang tak tahu atau lupa bahwa klub ini memiliki sebuah tempat pelatihan sepakbola yang luar biasa. Akademi ini didirikan sejak tahun 1950-an, dan menunjukkan potensi istimewa dari para didikannya. West Ham mungkin dianggap sebagai klub yang biasa-biasa saja atau malah tak begitu dipandang pada zaman sekarang. Namun reputasinya sangat melegenda yang salah satunya berkat binaan akademi dengan hasil para pemain muda di tim. Kebanyakan memang sudah langsung ditarik oleh klub lain dan meninggalkan West Ham. Tapi banyak orang pasti sudah tahu nama-nama tenar seperti Jermain Defoe, Glen Johnson, Joe Cole, Michael Carrick, Frank Lampard, atau Rio Ferdinand. Ya. Mereka semua adalah lulusan dari The Academy of Football.

Gremio

Gremio merupakan klub di Brasil dengan para alumni seperti Ailton, Gerson, Emerson, Lucio, Eduardo Costa, Lucas Leiva, Anderson, sampai Ronaldinho. Reputasinya sangat bagus di Brasil dan mendapatkan pengakuan resmi dari federasi sepakbola di sana.

Klub ini telah malang melintang di liga lokal dengan akademi yang turut mencetak para pemain luar biasa. Sudah dari sananya bahwa akademi ini memiliki kejelian untuk mengincar bibit-bibit baru yang tersebar di seantero jalanan Brasil dan sekitarnya. Meski pada akhirnya mereka banyak yang melanglang buana ke luar Amerika Latin, reputasi Gremio tetap diakui sampai hari ini.

El Semillero

Akademi ini kepunyaan dari sebuah klub bernama Argentinos Junior. Belum pernah mendengarnya? Tidak apa-apa, hal ini sudah biasa bagi sebuah klub kecil di Argentina atau jagad Amerika Latin. Tetapi akademi ini dikelola dengan sistem yang sangat disiplin dan cermat mengambil anak-anak muda berbakat di sana.

Kebanyakan yang sudah diasah oleh akademi ini akhirnya pindah ke klub lain seperti Boca Juniors atau River Plate. Dan setelah itu bisa ditebak karena sebagian besar melanjutkan karirnya ke panggung yang lebih besar. Nama-nama lulusan dari akademi ini telah menghiasi sejarah sepakbola modern seperti Batista, Redondo, dan tentu saja Maradona.

Arsenal Academy

Arsenal dengan akademinya ini sebenarnya tak bakal khawatir kehabisan stok pemain muda masa depan. Banyak lulusan terbaiknya seperti Tony Adams, Wilshere, dan Ashley Cole. Namun klubnya sendiri tampaknya lebih gemar berburu pemain baru di bursa transfer.

Apa Perbedaan Sepakbola di Inggris dan Amerika?

Sepakbola adalah olahraga yang menjadi bahasa universal karena berhasil menyatukan sekat-sekat bahasa, tradisi, wilayah, serta beragam kemajemukan dalam masyarakat global. Sepakbola nyaris mendekati konsep semacam ritual keagaam dengan jumlah pengikutnya yang terus bertambah dan mewariskannya dari generasi ke generasi.

Apa-Perbedaan-Sepakbola-di-Inggris-dan-Amerika

Ngomongin sepakbola juga tak jauh-jauh dari Eropa sebagai salah satu panggung utama pertandingan. Di benua ini pula sepakbola konon untuk pertama kalinya muncul yaitu di Inggris. Sepakbola yang kita kenal sampai hari ini adalah apa yang dimaknai sama oleh para penggemarnya di sana. Namun begitu bicara soal sepakbola Amerika Serikat, beberapa detik kita akan berpikir bahwa memang ada perbedaan yang kelihatannya tak menganggu tapi sangat sering memicu obrolan panjang.

Antara Football dan Soccer

Sepakbola di Inggris dan Amerika Serikat jelas berbeda kalau kita melihatnya dari konsep penggunaan istilah. Jelasnya adalah pemakaian istilah Football untuk di Inggris dan negara lainnya, serta Soccer yang hanya digunakan di Amerika Serikat. Mengapa bisa berbeda begitu? Dan apakah pengaruhnya?

Menyebutkan istilah Soccer, orang akan langsung paham bahwa yang dimaksud adalah sepakbola. Tetapi kalau menyebut Football di Amerika Serikat, belum tentu yang dimaksud itu akan sama oleh yang diajak bicara. KarenaFootball di Amerika Serikat adalah permainan bola yang justru tidak menggunakan kaki, melainkan kedua tangan.

Soccer adalah istilah Amerika Serikat untuk permainan sepakbola. Intinya punya pengertian sama dengan Football di Inggris. Cuma jika sedang berada di Amerika Serikat, gunakan istilah ini untuk menyebutkan sepakbola.

Football-di-Inggris

Football di Inggris

Football di Inggris adalah permainan sepakbola yang kita kenal seperti sekarang yaitu dimainkan dari dua tim yang masing-masing terdiri dari sebelas pemain. Pertandingan berlangsung selama dua kali 45 menit yang dipisahkan oleh masa istirahat selama 15 menit. Yah, seperti itulah rincian deskripsi dari football di Inggris dan semua negara lainnya kecual di Amerika Serikat. Mengapa sih sampai ada perbedaan dari penyebutan istilah itu? Bukankah keduanya sama-sama berlaku untuk permainan yang menggunakan bola kaki itu?

Football di Amerika Serikat

Football di Amerika Serikat

Kenyataannya, khusus di Amerika Serikat, yang namanya Football adalah apa yang kita kenal sebagai permainan yang mirip dengan Rugby. Ya. Sebuah konsep permainan yang setiap pemainnya mengenakan helm pelindung, baju pelindung, dan menggunakan kedua tangan untuk bermain. Kaki hanya untuk berlari dan menendang sekali. Gaya permainan ini pun identik dengan cara yang luar biasa keras karena bisa terjadi benturan-benturan dari para pemain. Makanya itu setiap pemain mengenakan kostum yang luar biasa ribetnya dibandingkan dengan jersey pemain sepakbola yang semakin modis.

Biasanya untuk membedakan dari football di Inggris dan lainnya, olahraga ini kadang disebut sebagai American Football. Penyebutan Football di Amerika Serikat untuk merujuk pada sepakbola pun nyaris tak dikenal. Mungkin diketahui dan dipahami, tetapi tak pernah dipraktikkan karena bisa diartikan sebagai olahraga yang mirip dengan Rugby itu.

Aturan Permainan di American Football

Mau tahu seperti apa sih yang dimaksud sebagai permainan football  Amerika itu? Permainan ini dijalankan dengan prinsip yang sangat sederhana. Yaitu membawa bola sampai melewati garis gawang lawan. Tapi faktanya memang tak sesederhana itu. Bayangkan saja, setiap pemain yang membawa bola yang diperebutkan itu harus menghindari terjangan dan serbuan dari para pemain lawan. Seringnya malah sampai ditabrak dan ditumpuk oleh banyak pemain di atas lapangan. Dan semua itu adalah sah.

Karena aturan permainan yang seperti itu, kostum yang dikenakan pun lain dari yang lain. Lebih lengkap mulai dari helm pengaman hingga kostum dan pelindung anggota tubuh lainnya. Perbandingan fisik antara pemain Football dan American Football juga sangat kentara. Di dalam sepakbola, kita tak heran jika ada pemain yang bertubuh lebih pendek dibandingkan rata-rata pemain lain. Atau yang terlalu kurus dan bahkan sedikit gemuk. Sedangkan dalam permainan American Football, semua pemainnya adalah pria yang bertubuh besar, tinggi, dan nyaris seperti kompi tentara.

Popularitas Sepakbola di Amerika Serikat

Namun bukan berarti Football atau permainan sepakbola yang kita kenal itu tak ada di Amerika Serikat. Ya itu tadi, mereka menyebutnya sebagai Soccer. Dan jangan salah, olahraga sepakbola ini pun cukup populer dan bahkan semakin melambung popularitasnya. Popularitas sepakbola sudah menunjukkan bibit-bibitnya saat Amerika Serikat kebagian jatah menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994.

Sambutan publik di Amerika Serikat itu sangat luar biasa. Meski negaranya sendiri tak punya peluang yang menarik di pentas dunia itu, tetapi rasa kebanggaan pada olahraga itu nampak dari suksesnya perhelatan acara pembukaan hingga final yang dimenangkan oleh tim nasional Brasil.

Setelah itu, tim nasional Amerika Serikat makin sering mendapatkan sorotan dari publik apalagi keterlibatan mereka dalam babak kualifikasi Piala Dunia sampai sekarang. Sebagian para pemain sepakbola Amerika Serikat pun kebagian jatah keberuntungan dengan mencicipi sejumlah liga di Eropa atau negara lain. Suatu pencapaian yang tentu lebih membanggakan.

Tapi liga di dalam negeri pun istimewa, yaitu MLS (Major League Soccer). Liga ini pun dikenal sebagai tempat bermainnya para pemain bintang senior yang memutuskan mengakhiri karirnya di sana. Alasan dari kebanyakan para pemain bintang itu adalah masih ingin bermain sebagai pemain bola di masa-masa menjelang pensiun tetapi masih bisa mencicipi sedikit popularitasnya. Jumlah pendapatan yang diterima seorang pemain bintang di MLS pun luar biasa kalau dibandingkan dengan rata-rata liga lainnya.

Keberagaman Sepakbola di Benua Amerika

Menyebut sepakbola di Amerika Serikat dengan keseluruhan benua ini pasti berbeda. Hal ini pula yang kian menambah keseruan mengamati perkembangan dari zaman dulu sampai sekarang. Benua Amerika terbagi dalam tiga pemetaan geografis yaitu Amerika Utara yang diwakili Amerika Serikat, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan alias Amerika Latin. Yang terakhir itu sudah sejak lama disegani sebagai wilayah yang menghasilkan para pemain bintang yang akhirnya berlabuh ke Eropa. Berbeda sekali nasibnya dengan Amerika Serikat yang sebetulnya secara geografis dan ekonomi jauh lebih beruntung dibandingkan dua wilayah lainnya. Namun itulah fakta sejarah dan sampai sekarang berlangsung.

Keberagaman itu semakin menguatkan perbedaan dari sepakbola di Inggris dan Amerika Serikat. Meski terkesan ada banyak perbedaan, tetapi masih merupakan jenis permainan yang menggunakan aturan sama dan rincian lainnya. Jika di Inggris atau negara lainnya sebuah klub sepakbola memiliki para pendukung fanatik yang bisa mencapai level membahayakan, apakah ada ciri yang sama di klub sepakbola di Amerika Serikat?

Pertanyaan tersebut sesungguhnya cukup mewakili apa yang membedakan dari permainan itu di kedua wilayah tersebut. Segmentasi peminatnya dan gaya hidup yang mewarnai perkembangan sepakbola merupakan catatan penting sebagai bahan untuk memahami perbedaan dari dua wilayah itu.

Berapa Sih Penghasilan Pemain Sepakbola dari yang Biasa Hingga Mega Bintang?

Urusan gaji seorang pemain sepakbola memang selalu menarik diangkat. Yang paling sering dibicarakan adalah jumlah gaji pemain kelas dunia yang rincian angkanya pun nyaris tak pernah terbayangkan oleh orang-orang biasa seperti kita ini. Yang jadi pertanyaan adalah berapa sih sebenarnya nilai gaji seorang pemain sepakbola yang, katakanlah, biasa saja. Kategori biasa ini mungkin dari level profesional tapi kelasnya rendah jika dibandingkan pada para pemain mega bintang. Ya katakan saja misalnya gaji para pemain di liga Indonesia. Nah, harusnya kamu tertarik berapa sih nominal gaji pemain bola biasa, sampai pada tingkatan angka yang gila-gilaan dari seorang pemain mega bintang.

Gaji Pemain Bola Indonesia

Gaji Pemain Bola Indonesia

Kita awali dari gaji pemain bola biasa di Indonesia. Sebetulnya cukup susah juga mencari tahu berapa nominal rata-rata dari seorang pemain sepakbola dengan level biasa di negeri ini. Setidaknya kita bisa mengambil satu contoh dari ajang kompetisi tahun lalu yaitu ISC (Indonesian Soccer Championship).

Ternyata untuk ajang kompetisi tersebut, ada aturan khusus yang berkaitan pembatasan angka maksimal yang bisa dikeluarkan oleh sebuah klub. Kabarnya, selama satu musim kompetisi, pengeluaran paling rendah sebesar 5 milyar rupiah, sedangkan pengeluaran terbesar dibatasi sampai nilai 10 milyar rupiah. Perhitungan kasarnya, sebuah klub setidaknya punya anggaran paling kecil 500 juta rupiah untuk total gaji seluruh pemain. Kalau dirata-rata pembagiannya, masing-masing pemain memperoleh gaji paling kecil sebesar 5 juta rupiah setiap bulannya.

Sedangkan untuk Indonesia Super League tentu perhitungannya beda lagi. Sekitar tahun lalu, yaitu para pemain sepakbola baik yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri yang berkarir di ISL menerima pemasukan yang lumayan juga setiap tahunnya. Misalnya adalah Han Dong-won, pemain berkebangsaan Korea Selatan. Ia sempat berkarir di Persib dan kemudian lanjut ke Persijap. Gaji yang ia terima kabarnya mencapai 1,38 milyar rupiah.

Lain halnya dengan Bambang Pamungkas. Pemain Persija sekaligus yang populer di Indonesia ini menerima gaji sebesar 1,18 milyar rupiah. Nominal yang diterima oleh salah satu pemain terbaik Asia versi ESPN tersebut mungkin saja sudah berubah untuk tahun ini. Pemain lokal lain yang memiliki gaji lumayan adalah Talaohu Abdul Musyafri. Pemain yang berkarir di Sriwijaya FC ini menerima gaji sejumlah 1,14 milyar setiap tahunnya. Eric Djemba-Djemba sejak tahun 2015 berkarir di Indonesia tepatnya di Persebaya. Pemain yang sudah sering pindah klub di berbagai negara ini kabarnya menerima gaji tahunan sebesar 1,07 milyar.

Catatan atas data gaji di atas barangkali sudah mengalami perubahan karena tergantung dari kompetisi dan jumlah anggaran dari masing-masing klub. Namun jika dibandingkan dari level pemain biasa hingga pemain lokal dan asing yang berkarir di Indonesia, setidaknya ada perbedaan yang tegas. Namun rata-rata dari semua jumlah gaji itu akan sangat jauh apabila kita bandingkan lagi pada jumlah gaji dari para pemain megabintang misalnya Messi dan Ronaldo. Berapa sih besarnya gaji mereka? Yuk kita lihat di bawah ini.

Gaji Para Mega Bintang

Gaji Para Mega Bintang

Banyak pemain yang masuk dalam kategori mega bintang. Pemain mega bintang adalah mereka yang berkarir di klub besar Eropa. Liga-liga di Eropa memang menjadi sorotan dalam hal industri sepakbola dengan perputaran modal yang gila-gilaan jumlahnya. Di sana pula kita selalu menjumpai para pemain tenar dan bergaji besar yang pada umumnya malah tidak berasal dari Benua Eropa.

Para pemain mega bintang itu pun identik dengan karir mereka yang panjang di sebuah klub besar. Sudah pasti hal wajar karena orang pastinya bakal semakin betah berkarir jika penghasilannya dikatakan sangat lebih dari cukup dan masih ada banyak tambahan bonus yang ia terima sesuai prestasi.

Dimulai dari Luis Suarez yang menjadi salah satu kunci penting di Barcelona. Ia ditandemkan bersama Messi dan Neymar sebagai pilar-pilar utama di Barca. Gajinya  selama seminggu berjumlah 205.000 poundsterling. Totalkan saja dalam hitungan bulanan hingga tahunan berapa yang sudah ia kumpulkan selama menjadi pemain di Barcelona. Itu masih belum ditambah bonus dan sumber pemasukan lainnya.

Bagaimana dengan gaji Neymar? Ia sering diramalkan menjadi pemain penggantinya Messi di masa depan. Sudah banyak pula pihak yang mengincarnya, tetapi ia nampaknya masih betah di Barcelona dengan nilai gaji 220.000 poundsterling setiap minggu.

Sergio Aguero pun termasuk sebagai salah satu pemain dengan pendapatan yang tinggi. Didatangkan oleh Manchester City, ia menyandang predikat sebagai salah satu bomber terbaik dan penuh ancaman. Gajinya setiap minggu diperkirakan mencapai 230.000 poundsterling. Dan nilai itu dirasa sangat sebanding dan sebagian malah menganggapnya kurang karena peran pentingnya dalam skuad Citizens.

Pemain Citizens lainnya adalah Yaya Toure dengan penghasilan selama seminggu mendapatkan 230.000 poundsterling. Ia memperoleh gaji tersebut meski sempat dikhawatirkan karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Terbukti ia masih bisa menunjukkan ketajamannya dan membuktikan bahwa perolehan gajinya sebanding dengan penampilannya.

Nama Zlatan Ibrahimovic tentu harus disebut kalau ngomongin gaji pemain mega bintang. Tahun lalu, ia menerima gaji sebesar 250.000 poundsterling setiap minggu. Bersama dirinyalah PSG nyaris mendominasi liga di Prancis.

Wayne Rooney pun layak menerima gaji dengan jumlah yang sama dengan Ibrahimovic. Rooney sudah membela MU semenjak tahun 2004. Dan bersama klubnya, ia menunjukkan penampilan dinamis yang lama kelamaan membentuk karakteristiknya yang kian matang. Gaji sebesar 250.000 poundsterling setiap minggu inilah yang membuatnya menjadi salah satu pemain mega bintang.

Sudah pasti nama seperti Lionel Messi dan Christiano Ronaldo menjadi puncak perbicangan untuk topik siapa pemain bola mega bintang yang punya penghasilan terbesar. Kedua pemain ini memang kerap dihadapkan pada posisi yang saling bersaing apalagi dari dua klub besar yang punya rivalitas sepanjang sejarah.

Gaji yang diterima Messi selama seminggu mencapai 275.000 poundsterling. Ia adalah pemain yang satu-satunya sampai hari ini menerima penghargaan Ballon d’Or. Sehingga reputasinya semakin kuat saja dan menjadi kunci paling penting di Barcelona. Ia bersama Barcelona sudah meraih segudang prestasi dan catatan luar biasa baik sebagai pencetak gol produktif hingga skillnya di atas lapangan.

Sayangnya, pendapatan yang diterima Messi itu kalah saing dengan apa yang sudah diperoleh oleh Christiano Ronaldo. Jumlah gaji mingguan sebesar 288.000 setiap minggu yang ia terima otomatis menggeser Messi sebagai pemain bola dunia dengan gaji termahal di peringkat dua. Ronaldo memang sangat pantas menerima itu. Bersama Manchester United kemudian Real Madrid, ia menunjukkan karakter yang disiplin dan selalu meningkatkan kualitas dirinya. Messi memang unggul dari prestasinya memperoleh lima kali penghargaan Ballon d’Or. Sedangkan Ronaldo baru tiga kali menerima penghargaan tersebut. Tetapi dilihat dari pencapaiannya, Ronaldo memang pantas mendapatkan predikat pemain bola termahal di dunia saat ini.